BIMA SENTRALNTB.ID - Tidak ada kebahagiaan yang lebih hakiki bagi seorang pendidik selain disapa muridnya dari kejauhan. Perasaan itu saya rasakan selama menjadi relawan pendidikan di wilayah 3T. "Rasa lelah seketika sirna ketika terdengar suara canda tawa anak-anak yang menggema dari atas bukit."
Bagi mereka yang mendidik dengan hati, tidak ada istilah mantan siswa maupun mantan guru. " Yang ada hanyalah hubungan saling menghargai, memahami, menghormati, dan melindungi." Namun, banyak peristiwa yang membuat hati tidak tenang ketika kita mencurahkan perhatian sepenuhnya pada anak-anak bangsa. Salah satunya ketika seorang anak bercerita sambil menangis bahwa ibunya bekerja sebagai TKW di luar negeri. "Ia bertanya lirih, “Kenapa saya juga tidak dapat? Sepatu saya bolong.
Kisah-kisah haru seperti itu kerap saya temui dari para pejuang pendidikan di pelosok Indonesia. Bahkan, cerita serupa saya dengar hingga ke India dan Irlandia. Lagu tanah air menjadi saksi perjalanan dedikasi lebih dari 13 tahun. "Saya melintasi bebatuan gunung, daratan, dan sungai." Terkadang tubuh terluka hingga menggigil kedinginan. Saat kelelahan memuncak, saya hanya bisa mengelus bumi, merasakannya bergetar tanpa jeda, hingga akhirnya terbaring lemah di ruang kabut. Di sana, infus dengan selang putih menancap di tangan kiri menjadi teman. *Dan itu bukan terjadi sekali, melainkan berkali-kali."
Dari pedalaman, kita mendengar cita-cita tentang membangun bangsa yang kuat. "Dari sanalah lahir anak-anak yang bercita-cita menjadi guru, dokter, bidan, perawat, polisi, TNI, menteri, presiden, ustadz, petani, ulama, pilot, dan profesi lainnya."Mereka mengasah pena di atas kertas yang lusuh, kadang tulisannya terlihat jelas, kadang hampir tak terbaca. Melihat itu, hati ini sering gelisah. "Apakah cita-cita mulia itu akan sampai ke garis finis, atau hanya berhenti menggantung di antara awan dan bara api di tanah tempat mereka berpijak?*
Bisikan pikiran itu terus berdengung di kepala, seperti dering ponsel jadul buatan Tiongkok: bahagia sesaat, menderita lama.
Yayasan Tahfidz Quran Salahuddin Al Ayyubi hadir sebagai jawaban atas kegelisahan akan masa depan anak-anak bangsa di wilayah 3T. Dari Ir. Sholah Atiyah di Mesir, saya belajar tentang investasi hidup yang tidak pernah berhenti. Ia merangkul keluarga dan kerabatnya, lalu melibatkan Allah SWT sebagai rekan bisnis yang kesepuluh. Dengan izin-Nya, segala cita-cita dalam memberdayakan umat dimudahkan.
"Kami menabur harapan dari Sape hingga Sanggar, Parado, Donggo, dan Tambora." Di sana, tak terdengar kicauan burung songbird, yang ada hanyalah suara hikmah dari burung wisdom. Di tanah yang dikenal melahirkan qari dan qariah terbaik, tersimpan pula kegundahan yang tak kunjung usai.
Namun, kegundahan itu tidak membuat kami berhenti. Setiap langkah, setiap luka, dan setiap air mata menjadi bahan bakar untuk terus berjalan.
Ya Rabbi, mudahkanlah jalan kami dalam mewujudkan Generasi Qurani di tanah kelahiran ini. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.,(00"Tim).

COMMENTS